Tajamkan Penglihatan, Jernihkan Pikiran, Bersihkan Hati Sebelum Menghakimi

Selasa, 3 November 2026 - 02:41 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

Oleh: Advokat Alfan Sari, SH, MH, MM, Tokoh Hukum – Keadilan untuk Semua

Jakarta – Sekilas, sebuah foto mungkin memperlihatkan seseorang yang sedang membaca buku di tengah sungai. Pemandangan itu tampak begitu nyata, seolah-olah ada seseorang yang tengah menikmati bacaan di antara aliran air.

Namun, ketika gambar diperhatikan lebih saksama dan diperbesar, persepsi awal tersebut berubah. Ternyata, tidak ada orang, tidak ada buku, apalagi aktivitas membaca seperti yang semula dibayangkan.

Dari ilusi visual sederhana ini, kita dapat memetik pelajaran berharga tentang kehidupan: sesuatu yang terlihat oleh mata belum tentu menggambarkan kenyataan yang sebenarnya.

Jangan Terjebak pada Penilaian Sekilas

Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang terburu-buru mengambil kesimpulan berdasarkan apa yang dilihat, didengar, atau diperoleh dari informasi pihak lain. Padahal, suatu persoalan tidak selalu dapat dipahami hanya melalui satu sudut pandang.

Seseorang yang tampak diam belum tentu tidak peduli. Mereka yang terlihat sederhana bukan berarti tidak memiliki kemampuan. Sebaliknya, sesuatu yang tampak indah di permukaan belum tentu menyimpan kebaikan di dalamnya.

Hal serupa berlaku dalam kehidupan bermasyarakat, termasuk ketika menghadapi persoalan hukum dan keadilan. Penampilan, kabar sepihak, prasangka, maupun asumsi tidak sepatutnya dijadikan landasan untuk menentukan benar atau salah.

Menemukan kebenaran membutuhkan ketelitian, fakta, bukti, dan keberanian untuk memahami persoalan secara menyeluruh. Penilaian yang terburu-buru justru berpotensi melahirkan kesalahpahaman, fitnah, bahkan ketidakadilan yang merugikan kehormatan orang lain.

Kebijaksanaan Berawal dari Pikiran yang Jernih

Filsuf besar Yunani, Aristoteles, menekankan pentingnya penalaran dan pengamatan dalam memperoleh pengetahuan. Manusia tidak seharusnya hanya mengandalkan kesan pertama, melainkan perlu menggunakan akal untuk memahami sesuatu secara lebih mendalam.

Sementara itu, filsuf Jerman, Immanuel Kant, melalui pemikirannya tentang pengetahuan, menjelaskan bahwa pemahaman manusia terbentuk melalui hubungan antara pengalaman dan proses berpikir. Dengan demikian, apa yang ditangkap oleh indra belum tentu mencerminkan keseluruhan kenyataan.

Kedua pemikiran tersebut mengingatkan kita bahwa kebijaksanaan membutuhkan sikap kritis, keterbukaan, dan kemampuan mengendalikan diri.

Ukuran kedewasaan seseorang bukan terletak pada seberapa cepat ia berbicara atau menjatuhkan penilaian, melainkan pada kesanggupannya menahan diri, memeriksa kebenaran, serta mempertimbangkan berbagai sudut pandang sebelum mengambil keputusan.

Perspektif Islam: Menjaga Hati dan Mengedepankan Tabayyun

Nilai kehati-hatian dalam menilai orang lain juga memiliki landasan kuat dalam ajaran Islam. Imam Al-Ghazali, ulama besar yang dikenal melalui pemikirannya tentang penyucian jiwa dan pembinaan akhlak, mengajarkan pentingnya membersihkan hati dari sifat tercela, seperti kesombongan, iri hati, dan prasangka buruk.

Pemikiran tersebut sejalan dengan ajaran Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah yang banyak membahas hubungan antara kebersihan hati, kejernihan pemahaman, dan perilaku manusia. Keduanya memberikan pelajaran bahwa penilaian terhadap sesama harus disertai kerendahan hati dan kebijaksanaan.

Allah SWT juga memberikan pedoman yang tegas dalam Al-Qur’an, khususnya Surah Al-Hujurat ayat 6. Ayat tersebut memerintahkan orang-orang beriman untuk melakukan tabayyun atau memeriksa kebenaran suatu berita sebelum mengambil tindakan, agar tidak merugikan pihak lain akibat informasi yang keliru.

Pesan itu diperkuat melalui Surah Al-Hujurat ayat 12 yang mengingatkan manusia agar menjauhi prasangka buruk karena sebagian prasangka merupakan dosa.

Kedua ayat tersebut mengandung prinsip moral yang sangat penting: jangan mudah mempercayai kabar yang belum terverifikasi, menyebarkan tuduhan tanpa dasar, ataupun menjatuhkan kehormatan seseorang berdasarkan informasi yang belum tentu benar.

Dalam kehidupan, mata bisa saja keliru menangkap gambaran dan telinga mungkin salah menerima informasi. Karena itu, manusia membutuhkan akal yang sehat, hati yang bersih, serta keimanan yang kuat agar mampu membedakan fakta dari persepsi.

Jangan Menghakimi Sebelum Memahami

Setiap manusia memiliki perjalanan hidup yang tidak selalu terlihat dari luar. Ada perjuangan yang tersembunyi, kesedihan yang tidak diperlihatkan, serta kenyataan yang tidak dapat dijelaskan hanya melalui pengamatan singkat.

Oleh sebab itu, hindarilah kebiasaan menghakimi seseorang sebelum memahami duduk persoalannya. Berikan ruang bagi fakta untuk terungkap dan kesempatan kepada setiap pihak untuk menyampaikan penjelasan secara proporsional.

Dalam perspektif hukum, prinsip tersebut merupakan bagian penting dari penghormatan terhadap keadilan. Setiap orang berhak memperoleh penilaian yang objektif berdasarkan fakta dan alat bukti, bukan opini sepihak, prasangka, ataupun tekanan opini publik.

Kesalahan dalam melihat mungkin hanya menimbulkan kekeliruan persepsi. Namun, kesalahan dalam menilai seseorang dapat mencederai kehormatan, merusak hubungan sosial, bahkan menimbulkan ketidakadilan yang berdampak luas.

Karena itu, kehati-hatian bukanlah tanda kelemahan, melainkan wujud kedewasaan dan tanggung jawab moral.

Penutup: Melihat dengan Mata, Memahami dengan Hati, Menilai dengan Akal Sehat

Foto tersebut menyampaikan pesan sederhana dengan makna yang mendalam. Terkadang, kita perlu memperluas sudut pandang, memperdalam pemahaman, dan mengoreksi persepsi agar tidak terjebak pada kesimpulan yang keliru.

Jangan hanya berpegang pada apa yang terlihat ataupun mudah terpengaruh oleh sesuatu yang terdengar. Periksalah kebenarannya, pahami konteksnya, dan gunakan kebijaksanaan sebelum menyampaikan penilaian.

Pada akhirnya, kehidupan bukan semata-mata tentang kemampuan melihat, melainkan juga kesanggupan memahami makna di balik setiap peristiwa.

Melihat belum tentu memahami. Mendengar belum tentu mengetahui. Dan menilai belum tentu berarti menemukan kebenaran.

Marilah kita menjadikan tabayyun sebagai pedoman dalam menerima dan menyebarkan informasi, menjaga kebersihan hati dalam berhubungan dengan sesama, serta mengutamakan keadilan dalam setiap tindakan.

Subhanallah, Allahu Akbar.

Semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita menjadi pribadi yang arif, bijaksana, jauh dari prasangka buruk, serta teguh dalam memperjuangkan kebenaran dan keadilan.

Doa bi doa.

Barakallahu fiikum.

Berita Terkait

Divpropam Polri Mulai Periksa Pengaduan terhadap Mantan Kapolda Sumsel dan Tiga Pejabat Utama
Tuntut Pengawasan Atas Prosedur Hukum di Polda Banten, Juwita Ajukan RDP ke Komisi III DPR RI
Prof DR Sutan Nasomal : Mengapa Indonesia Belum Rontok Seperti Afrika
Profesor Sutan Nasomal Setuju Presiden RI Rangkul Negara Lain Bekerja Sama Terkait Internet Untuk Kemajuan Keamanan Negara Indonesia!!!
Profesor Sutan Nasomal Setuju Presiden RI Rangkul Negara Lain Bekerja Sama Terkait Internet Untuk Kemajuan Keamanan Negara Indonesia!!!
Gubernur Mirza Ajak Pemuda Bangun Ekonomi Desa melalui Hilirisasi Komoditas Unggulan
Adv. Alfan Sari: Penggerebekan Pesantren Sukoharjo Adalah Pengkhianatan Terhadap Konstitusi dan Kemanusiaan
KEADILAN DIUJUNG MIMPI

Berita Terkait

Selasa, 3 November 2026 - 04:39 WIB

Divpropam Polri Mulai Periksa Pengaduan terhadap Mantan Kapolda Sumsel dan Tiga Pejabat Utama

Selasa, 3 November 2026 - 03:05 WIB

Tuntut Pengawasan Atas Prosedur Hukum di Polda Banten, Juwita Ajukan RDP ke Komisi III DPR RI

Selasa, 3 November 2026 - 02:41 WIB

Tajamkan Penglihatan, Jernihkan Pikiran, Bersihkan Hati Sebelum Menghakimi

Senin, 2 November 2026 - 07:48 WIB

Prof DR Sutan Nasomal : Mengapa Indonesia Belum Rontok Seperti Afrika

Senin, 2 November 2026 - 02:25 WIB

Profesor Sutan Nasomal Setuju Presiden RI Rangkul Negara Lain Bekerja Sama Terkait Internet Untuk Kemajuan Keamanan Negara Indonesia!!!

Senin, 2 November 2026 - 02:16 WIB

Profesor Sutan Nasomal Setuju Presiden RI Rangkul Negara Lain Bekerja Sama Terkait Internet Untuk Kemajuan Keamanan Negara Indonesia!!!

Senin, 2 November 2026 - 01:42 WIB

Gubernur Mirza Ajak Pemuda Bangun Ekonomi Desa melalui Hilirisasi Komoditas Unggulan

Senin, 2 November 2026 - 01:36 WIB

Adv. Alfan Sari: Penggerebekan Pesantren Sukoharjo Adalah Pengkhianatan Terhadap Konstitusi dan Kemanusiaan

Berita Terbaru