Menembus Batas Akademik Global: WPF University dan Princonser University Sosialisasikan Program Doktoral D.S.P.P Bersama PPWI

Jumat, 26 Juni 2026 - 23:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta

Menjawab tantangan global akan pentingnya integrasi ilmu pengetahuan, etika, dan aksi nyata, sebuah langkah terobosan di dunia pendidikan internasional baru saja diinisiasi. Pada Kamis malam, 25 Juni 2026, pukul 19.30 hingga 21.30 WIB, telah sukses diselenggarakan Seminar Online dalam rangka sosialisasi Program Doktoral Internasional: Doctor of Scientific-Practical Philosophy (D.S.P.P).

Pertemuan virtual yang dihadiri oleh belasan jurnalis, aktivis, praktisi, dan intelektual dari berbagai daerah di Indonesia ini menghadirkan dua tokoh penting dunia sebagai pembicara utama. Mereka adalah Prof. Muhammad Jesues Chrisnha selaku Chancellor International of World Philosophical Forum (WPF) University, dan Prof. Fidel GutiƩrrez Vivanco selaku Rector of Princonser University yang terhubung langsung secara live dari Lima, Peru. Bertindak sebagai moderator sekaligus penerjemah bahasa dalam seminar penting ini adalah Ketua Umum PPWI, Wilson Lalengke, S.Pd., M.Sc., M.A.

Salah satu fokus krusial yang dibahas dalam seminar ini adalah pelurusan pemahaman mengenai istilah “Doctor Award” (Penghargaan Doktor) yang ditawarkan oleh sistim akademik WPF University. Di Indonesia, istilah “penghargaan doktor” kerap disalahartikan sebagai gelar Doktor Kehormatan (Honoris Causa / H.C.).

Prof. Muhammad Jesues Chrisnha menjelaskan dengan terang-benderang bahwa kedua kategori tersebut berada pada spektrum pengakuan yang sangat berbeda. Jika Doktor Kehormatan (H.C.) umumnya diberikan sebagai bentuk apresiasi atas popularitas, jabatan, atau jasa masa lalu seseorang tanpa persyaratan akademik formal, maka Doctor Award D.S.P.P mengharuskan kandidat untuk melalui proses ilmiah tingkat doktoral yang ketat dan terstruktur.

“Seseorang yang menerima gelar D.S.P.P dari kami wajib berpartisipasi aktif dalam proses ilmiah. Mereka harus menyerahkan karya asli, menyusun disertasi atau tesis, menjalani evaluasi akademik independen, peninjauan penelitian, hingga melakukan ujian lisan dan/atau pembelaan karyanya di hadapan panel dewan akademik internasional,” papar Prof. Chrisnha.

Melalui jalur ini, kandidat berhasil membangun berkas akademik yang substantif (academic dossier) seperti jurnal ilmiah, publikasi penelitian, dan keputusan tertulis dewan akademik. Rekam jejak ilmiah ini bernilai jangka panjang karena dapat dievaluasi secara independen oleh universitas, kementerian, atau lembaga profesional mana pun di masa mendatang.

*Sambutan Hangat dan Harapan*

Rektor Princonser University, Prof. Fidel GutiĆ©rrez Vivanco, dalam pemaparannya menyampaikan rasa bahagia dan apresiasi yang luar biasa atas kerja sama internasional yang baru saja terjalin ini. “Saya mengucapkan selamat yang sebesar-besarnya kepada keluarga besar PPWI dan WPF University atas kemitraan strategis yang sangat progresif ini. Menyelenggarakan seminar sosialisasi program doktoral ini dalam waktu singkat adalah bukti nyata komitmen kita bersama untuk memajukan filsafat praktis-ilmiah di tingkat global, khususnya bagi masyarakat intelektual di Indonesia,” ujar Prof. Fidel langsung dari Peru.

Senada dengan Prof. Fidel, Prof. Chrisnha dan Wilson Lalengke menaruh harapan besar agar publik, terutama para peserta seminar, memahami esensi program D.S.P.P dengan utuh dan jernih. “Kami sangat berharap para peserta tidak terjebak dalam kebingungan administratif atau menyamakan program ini dengan PhD tradisional yang terakreditasi lokal. D.S.P.P adalah penghargaan akademik tingkat doktor internasional swasta berdasarkan kontribusi ilmiah nyata yang telah dibuktikan oleh kandidat,” jelas Prof. Chrisnha.

Sementara itu, Wilson Lalengke selaku moderator menambahkan bahwa program ini adalah peluang emas bagi para pemikir dan praktisi Indonesia untuk mendapatkan pengakuan dunia atas karya dan dedikasi nyata mereka. “Filsafat tidak boleh hanya menjadi menara gading yang mengawang-awang. D.S.P.P mewujudkan filsafat praktis, bagaimana ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan diimplementasikan untuk memecahkan persoalan rill manusia. Kami di PPWI berkomitmen memfasilitasi para intelektual tanah air untuk meraih rekognisi internasional ini dengan jujur dan bermartabat,” jelas lulusan pasca sarjana bidang Etika Terapan dari Universitas Utrecht (Belanda) dan Universitas Linkoping (Swedia) ini sambil mengajak semua kalangan tanpa terkecuali untuk bisa mengambil peluang emas tersebut..

*Mengembalikan Khitah Phronesis*

Program Doctor of Scientific-Practical Philosophy (D.S.P.P) sejatinya merupakan manifestasi modern dari konsep Phronesis (kebijaksanaan praktis) yang digagas oleh filsuf klasik Aristoteles. Aristoteles membedakan antara Sophia (kebijaksanaan teoretis) dan Phronesis (kemampuan etis untuk bertindak demi kebaikan manusia secara nyata).

Melalui D.S.P.P, karya-karya praktis para profesional di lapangan diangkat ke derajat akademik tertinggi melalui pisau analisis filsafat. Dengan demikian, ilmu pengetahuan kembali ke khitahnya: bukan sekadar kumpulan kertas dokumen yang tersimpan di perpustakaan, melainkan suluh penerang yang memperbaiki peradaban kemanusiaan. (TIM/Red)

Berita Terkait

Febrie Adriansyah: Jika Dibebaskan, Saya Siap Tangani Kasus Korupsi yang Lebih Besar
APKOMINDO dan APTIKNAS Dukung The 8th Indonesia 4.0 Conference & Expo 2026, Dorong Adopsi AI dan Transformasi Industri Nasional
Sekdaprov Lampung Marindo Kurniawan Raih Peringkat Kedua ADLG Awards 2026
APTIKNAS Perkuat Kolaborasi Digital Asia Oseania melalui ASOCIO Digital & AI Summit 2026
Prof Dr Sutan Nasomal Harapkan Presiden Perintahkan BNN Polri TNI Bersatu Brantas Narkoba. Indonesia Harus Bebas Narkoba
Wapres Lulusan SMP, Wilson Lalengke: Wajar, Ini Cerminan Rata-rata IQ Manusia Indonesia
BPKP RI Janji Telaah Dugaan Pungutan Ilegal 12M BMBK Lampung
PROF DR SUTAN NASOMAL PENGHASILAN PAJAK PEMERINTAH MENDAPATKAN RIBUAN TRILYUN DITENGAH KEMISKINAN RAKYAT YANG SEMAKIN PARAH

Berita Terkait

Kamis, 15 Oktober 2026 - 04:27 WIB

Febrie Adriansyah: Jika Dibebaskan, Saya Siap Tangani Kasus Korupsi yang Lebih Besar

Rabu, 14 Oktober 2026 - 04:37 WIB

APKOMINDO dan APTIKNAS Dukung The 8th Indonesia 4.0 Conference & Expo 2026, Dorong Adopsi AI dan Transformasi Industri Nasional

Rabu, 14 Oktober 2026 - 01:57 WIB

Sekdaprov Lampung Marindo Kurniawan Raih Peringkat Kedua ADLG Awards 2026

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 10:32 WIB

APTIKNAS Perkuat Kolaborasi Digital Asia Oseania melalui ASOCIO Digital & AI Summit 2026

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 01:59 WIB

Prof Dr Sutan Nasomal Harapkan Presiden Perintahkan BNN Polri TNI Bersatu Brantas Narkoba. Indonesia Harus Bebas Narkoba

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 01:51 WIB

Wapres Lulusan SMP, Wilson Lalengke: Wajar, Ini Cerminan Rata-rata IQ Manusia Indonesia

Kamis, 8 Oktober 2026 - 07:53 WIB

BPKP RI Janji Telaah Dugaan Pungutan Ilegal 12M BMBK Lampung

Kamis, 8 Oktober 2026 - 02:31 WIB

PROF DR SUTAN NASOMAL PENGHASILAN PAJAK PEMERINTAH MENDAPATKAN RIBUAN TRILYUN DITENGAH KEMISKINAN RAKYAT YANG SEMAKIN PARAH

Berita Terbaru