Senegal Teguhkan Kembali Dukungan terhadap Integritas Teritorial Maroko atas Sahara Barat

Kamis, 29 Januari 2026 - 02:39 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Rabat

Dinamika diplomasi di Benua Afrika kembali mencatatkan momentum bersejarah yang memperkuat stabilitas kawasan. Republik Senegal secara resmi menegaskan kembali dukungan yang kokoh dan tidak tergoyahkan terhadap integritas teritorial dan kedaulatan Kerajaan Maroko atas seluruh wilayah nasionalnya, termasuk wilayah Sahara Barat yang kini dikenal sebagai Sahara Maroko. Pernyataan ini menjadi sinyal kuat bagi komunitas internasional mengenai konsistensi persahabatan dan visi politik yang sejalan antara kedua negara tersebut.

Sikap tegas ini dituangkan dalam Komunike Bersama yang diadopsi di Rabat menyusul pertemuan Komisi Kemitraan Tinggi Bersama Maroko-Senegal. Pertemuan tingkat tinggi yang berlangsung pada Senin, 26 Januari 2026, ini dipimpin langsung oleh Kepala Pemerintahan Maroko, Aziz Akhannouch, bersama Perdana Menteri Senegal, Ousmane Sonko. Pertemuan ini tidak hanya membahas kerja sama ekonomi, tetapi juga menjadi panggung penegasan posisi politik Senegal yang selama ini menjadi salah satu sekutu terdekat Maroko di Afrika.

*Otonomi Sebagai Solusi Tunggal yang Realistik*

Dalam kesempatan tersebut, pihak Senegal memperbaharui dukungan penuh mereka terhadap rencana otonomi di bawah kedaulatan Maroko yang diajukan oleh Kerajaan Maroko. Senegal memandang proposal tersebut sebagai satu-satunya solusi yang kredibel, serius, dan realistis untuk menyelesaikan perselisihan regional ini.

Lebih lanjut, dukungan ini ditempatkan dalam kerangka eksklusif Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Senegal menyambut baik adopsi bersejarah Resolusi 2797 oleh Dewan Keamanan PBB pada 31 Oktober 2025. Resolusi ini mengukuhkan rencana otonomi yang diusulkan Maroko sebagai basis tunggal yang serius, kredibel, dan abadi untuk mencapai solusi politik yang final atas isu Sahara. Dengan dukungan ini, Senegal mempertegas bahwa penyelesaian konflik haruslah menghormati kedaulatan negara tanpa mengabaikan aspirasi lokal dalam bingkai kesatuan nasional.

*Diplomasi Berbasis Komitmen dan Keadilan*

Menanggapi perkembangan diplomasi ini, Presiden Persaudaraan Indonesia Sahara Maroko (Persisma), Wilson Lalengke, memberikan pandangan yang sangat positif. Jurnalis senior Indonesia dan aktivis kemanusiaan internasional, secara khusus mengapresiasi Senegal atas komitmennya yang teguh dalam mendukung integritas wilayah Maroko. Bagi Wilson Lalengke, langkah Senegal merupakan contoh nyata dari diplomasi yang berdasarkan pada prinsip kejujuran dan persaudaraan antarbangsa.

“Saya sangat mengapresiasi Senegal atas komitmen mereka yang luar biasa. Dukungan terhadap kedaulatan Maroko atas Sahara bukan hanya soal politik luar negeri, melainkan soal pengakuan terhadap realitas sejarah dan hukum internasional yang sah,” ungkap Wilson Lalengke kepada media ini, Kamis, 28 Januari 2026.

Pria yang Oktober 2025 lalu hadir di PBB menyuarakan keprihatinan mendalam atas nasib pengungsi Sahrawi di Camp Tindouf itu juga mendukung penuh kesepakatan yang dihasilkan antara kedua negara. Menurutnya, sinergi antara Maroko dan Senegal merupakan model ideal bagi kerja sama Selatan-Selatan. Ia menekankan bahwa dukungan Senegal terhadap kedaulatan Maroko akan mempercepat terciptanya perdamaian yang berkelanjutan di kawasan Sahara Maroko, yang pada akhirnya akan berdampak positif pada kesejahteraan rakyat di wilayah tersebut.

“Perjanjian antara kedua negara ini harus didukung oleh semua pihak yang mencintai perdamaian. Senegal telah menunjukkan bahwa mereka adalah mitra yang berprinsip, yang lebih mengedepankan solusi damai dan stabil daripada memperpanjang sengketa yang tidak produktif,” tambah Lalengke.

*Kedaulatan dan Etika Hubungan Internasional*

Secara filosofis, dukungan Senegal terhadap kedaulatan Maroko sejalan dengan prinsip Etika Kedaulatan yang ditekankan oleh para pemikir politik klasik, antara lain oleh Thomas Hobbes. Tanpa integritas teritorial yang jelas, sebuah negara akan kesulitan memberikan perlindungan maksimal bagi warganya. Senegal, dengan mendukung rencana otonomi Maroko, sebenarnya sedang mempromosikan bentuk keadilan yang praktis, di mana pemerintahan lokal diberikan wewenang luas namun tetap dalam naungan kedaulatan negara yang stabil.

Dukungan terhadap Resolusi 2797 PBB juga mencerminkan penghormatan terhadap Logika Hukum Internasional. Sebagaimana sering disinggung oleh Wilson Lalengke, setiap penegakan hukum dan diplomasi harus didasari oleh logika yang kuat dan pemahaman filosofis yang jernih agar tidak terjebak dalam kepentingan politik sesaat.

*Dampak Global dan Regional*

Dukungan Senegal ini diharapkan akan memicu gelombang dukungan serupa dari negara-negara lain di Afrika dan dunia. Dengan semakin banyaknya negara yang mengakui rencana otonomi Maroko sebagai solusi tunggal, maka ruang bagi ketidakpastian politik di wilayah Sahara akan semakin tertutup.

Bagi Maroko, kemitraan dengan Senegal ini adalah pilar strategis dalam diplomasi Afrika mereka. Bagi dunia, ini adalah bukti bahwa dialog bilateral yang didasari oleh rasa hormat dan visi masa depan yang sama adalah kunci utama dalam menyelesaikan sengketa wilayah yang telah berlangsung selama puluhan tahun.

Pertemuan di Rabat telah menegaskan bahwa Maroko tidak berdiri sendiri dalam menjaga integritas wilayahnya. Dengan dukungan penuh dari Senegal dan legitimasi dari Resolusi Dewan Keamanan PBB, rencana otonomi Sahara kini berada di jalur yang paling kuat menuju penyelesaian permanen. Apresiasi dari tokoh seperti Wilson Lalengke semakin mempertegas bahwa langkah diplomasi ini mendapatkan legitimasi moral dari para pejuang kemanusiaan dan keadilan di tingkat global. (PERSISMA/Red)

Berita Terkait

AFCON 2025: Morocco’s Triumph and a Dress Rehearsal for the 2030 World Cup
Fosil Pertama dari Periode Evolusi Manusia Ditemukan di Maroko
Morocco’s Approach to Security Became Lever for Development Thanks to HM the King’s Foresighted Vision – Koman
King Mohammed VI Declares October 31 as Morocco’s “Unity Day” to Celebrate National Cohesion
Angkat Isu Keadilan Gender dalam Transisi Energi, Dua Mahasiswa Unila Harumkan Lampung di Forum Energi ASEAN 2025
Ketua Konferensi Ke-80 Komite Keempat PBB Berikan Komentar atas Pidato Wilson Lalengke
Launch of Ticketing for the TotalEnergies CAF Africa Cup of Nations Morocco 2025: Update from the Organizing Committee
Safran to open Morocco’s first aircraft engine manufacturing plant in Casablanca, King Mohammed VI chairs presentation ceremony & launch of construction works of the complex

Berita Terkait

Kamis, 29 Januari 2026 - 02:39 WIB

Senegal Teguhkan Kembali Dukungan terhadap Integritas Teritorial Maroko atas Sahara Barat

Senin, 19 Januari 2026 - 02:09 WIB

AFCON 2025: Morocco’s Triumph and a Dress Rehearsal for the 2030 World Cup

Jumat, 9 Januari 2026 - 01:36 WIB

Fosil Pertama dari Periode Evolusi Manusia Ditemukan di Maroko

Kamis, 27 November 2025 - 01:56 WIB

Morocco’s Approach to Security Became Lever for Development Thanks to HM the King’s Foresighted Vision – Koman

Sabtu, 8 November 2025 - 02:04 WIB

King Mohammed VI Declares October 31 as Morocco’s “Unity Day” to Celebrate National Cohesion

Rabu, 22 Oktober 2025 - 04:25 WIB

Angkat Isu Keadilan Gender dalam Transisi Energi, Dua Mahasiswa Unila Harumkan Lampung di Forum Energi ASEAN 2025

Kamis, 16 Oktober 2025 - 02:23 WIB

Ketua Konferensi Ke-80 Komite Keempat PBB Berikan Komentar atas Pidato Wilson Lalengke

Rabu, 15 Oktober 2025 - 13:39 WIB

Launch of Ticketing for the TotalEnergies CAF Africa Cup of Nations Morocco 2025: Update from the Organizing Committee

Berita Terbaru