Buku Ijazah Jokowi Layak Dibaca sebagai Ruang Refleksi Moral dan Kejujuran Publik

Jumat, 12 Juni 2026 - 03:49 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Nopriyanto, Ketua DPC PPWI Lampung Utara

Lampung – Perdebatan mengenai isu ijazah Presiden Joko Widodo telah menjadi salah satu diskursus publik yang cukup panjang di Indonesia. Di tengah beragam pandangan yang berkembang, kehadiran buku Ijazah Jokowi: Pertaruhan Moralitas Bangsa dan Refleksi Kejujuran (Sebuah Renungan Filosofis) karya Wilson Lalengke, S.Pd., M.Sc., MA menawarkan sudut pandang yang berbeda, yakni pendekatan filosofis terhadap persoalan moralitas, integritas, dan kejujuran dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Ketua DPC Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI) Lampung Utara, Nopriyanto, menilai buku tersebut layak dibaca oleh masyarakat luas. Menurutnya, buku ini tidak semata membahas persoalan administratif atau polemik yang berkembang di ruang publik, tetapi lebih jauh mengajak pembaca merenungkan nilai-nilai moral yang menjadi fondasi kehidupan demokrasi.

> “Buku ini layak dibaca dan bahkan perlu dibaca oleh siapa saja yang ingin memahami pentingnya kejujuran, integritas, dan tanggung jawab moral dalam kehidupan berbangsa. Pembaca diajak berpikir secara kritis dan filosofis terhadap berbagai fenomena yang terjadi di sekitar kita,” ujar Nopriyanto.

 

Dalam perspektifnya, membaca buku tersebut tidak harus dimaknai sebagai bentuk dukungan ataupun penolakan terhadap pihak tertentu. Sebaliknya, buku itu dapat menjadi sarana untuk memperluas wawasan dan memperkaya diskusi publik melalui pendekatan intelektual yang lebih mendalam.

Secara filosofis, tema yang diangkat dalam buku tersebut sejalan dengan pemikiran sejumlah filsuf dunia mengenai pentingnya kejujuran dalam kehidupan manusia. Filsuf Jerman Immanuel Kant pernah menegaskan bahwa kejujuran merupakan kewajiban moral yang harus dijunjung tinggi dalam segala keadaan. Bagi Kant, tindakan yang benar bukan ditentukan oleh hasilnya, melainkan oleh kesesuaiannya dengan prinsip moral yang universal.

Sementara itu, filsuf Yunani Socrates mengajarkan bahwa kehidupan yang baik adalah kehidupan yang selalu diperiksa dan dipertanyakan secara kritis. Ungkapannya yang terkenal, “The unexamined life is not worth living” (hidup yang tidak direfleksikan tidak layak dijalani), mengingatkan pentingnya sikap kritis dan pencarian kebenaran dalam kehidupan masyarakat.

Pemikiran serupa juga disampaikan oleh filsuf Prancis Voltaire, yang menekankan pentingnya kebebasan berpikir dan berdialog dalam mencari kebenaran. Dalam masyarakat demokratis, perbedaan pandangan seharusnya tidak menjadi alasan untuk menutup ruang diskusi, melainkan menjadi kesempatan untuk memperkuat budaya literasi dan berpikir rasional.

Dari sudut pandang tersebut, buku karya Wilson Lalengke dapat dipahami sebagai bagian dari upaya menghadirkan ruang refleksi bagi publik. Terlepas dari setuju atau tidak setuju terhadap isi dan argumentasi yang disampaikan penulis, masyarakat tetap memiliki kesempatan untuk menilai secara objektif berdasarkan informasi, data, dan penalaran yang tersedia.

Budaya membaca dan mengkaji berbagai pandangan merupakan salah satu ciri masyarakat yang demokratis dan beradab. Oleh karena itu, ajakan untuk membaca buku tidak semestinya dipandang sebagai upaya menggiring opini, melainkan sebagai dorongan untuk memperluas wawasan serta meningkatkan kualitas diskusi publik.

Pada akhirnya, sebagaimana ditegaskan banyak pemikir dunia, pencarian kebenaran membutuhkan keterbukaan pikiran, keberanian untuk berpikir kritis, dan komitmen terhadap nilai kejujuran. Buku Ijazah Jokowi dapat menjadi salah satu bahan refleksi dalam proses tersebut, sekaligus mengingatkan bahwa moralitas dan integritas tetap menjadi elemen penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. (Tim/Red)

Berita Terkait

Cyber Polda Lampung dan Dewan Pers Didesak Bertindak, Marak Dugaan Media Abal-Abal Jadi Alat Pemerasan Berkedok Jurnalisme
UKW Bukan “Tiket” Menjadi Wartawan, Ketua DPD PPWI Lampung: Integritas dan Karya Jurnalistik yang Utama
Pembangunan Tower, Jalan Beton, dan Land Clearing di TNWK Dipersoalkan, Merusak Ekosistem Serta Mengancam Satwa
Kejati Lampung Ultimatum Pengelola MBG: Jangan Main-Main dengan Gizi Anak Bangsa
KPK Gandeng Pemprov Lampung Perkuat Pendidikan Anti Korupsi di Sekolah KPK Hadir,Ratusan Kepala Sekolah SMA dan SMK se Lampung Ikut Sosialisasi Anti Korupsi
Janji Pejabat yang Tak Kunjung Ditepati: Ketika Kepercayaan Publik Menjadi Taruhan
Ketua DPD PPWI Lampung Husin Muchtar: Buku “Ijazah Jokowi” Perlu Dibaca sebagai Ruang Refleksi Moral Bangsa
Munas HIPMI di Bandar Lampung Diwarnai Isu Premanisme, Ormas Lokal Siaga Satu: “Jangan Nodai Bumi Lampung!”

Berita Terkait

Senin, 27 Juli 2026 - 02:58 WIB

Cyber Polda Lampung dan Dewan Pers Didesak Bertindak, Marak Dugaan Media Abal-Abal Jadi Alat Pemerasan Berkedok Jurnalisme

Minggu, 19 Juli 2026 - 12:17 WIB

UKW Bukan “Tiket” Menjadi Wartawan, Ketua DPD PPWI Lampung: Integritas dan Karya Jurnalistik yang Utama

Selasa, 14 Juli 2026 - 05:49 WIB

Pembangunan Tower, Jalan Beton, dan Land Clearing di TNWK Dipersoalkan, Merusak Ekosistem Serta Mengancam Satwa

Kamis, 25 Juni 2026 - 08:48 WIB

Kejati Lampung Ultimatum Pengelola MBG: Jangan Main-Main dengan Gizi Anak Bangsa

Kamis, 25 Juni 2026 - 08:39 WIB

KPK Gandeng Pemprov Lampung Perkuat Pendidikan Anti Korupsi di Sekolah KPK Hadir,Ratusan Kepala Sekolah SMA dan SMK se Lampung Ikut Sosialisasi Anti Korupsi

Sabtu, 13 Juni 2026 - 07:00 WIB

Janji Pejabat yang Tak Kunjung Ditepati: Ketika Kepercayaan Publik Menjadi Taruhan

Sabtu, 13 Juni 2026 - 02:20 WIB

Ketua DPD PPWI Lampung Husin Muchtar: Buku “Ijazah Jokowi” Perlu Dibaca sebagai Ruang Refleksi Moral Bangsa

Jumat, 12 Juni 2026 - 03:49 WIB

Buku Ijazah Jokowi Layak Dibaca sebagai Ruang Refleksi Moral dan Kejujuran Publik

Berita Terbaru